Aktivitas Merapi Masih Tinggi, BPPTKG: Masyarakat Diimbau Untuk Tetap Waspada

- 29 Januari 2021, 15:00 WIB
Gunung Merapi
Gunung Merapi /esdm.go.id

BERITA DIY - Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono, menyampaikan hasil pemantauan yang dilakukan oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Badan Geologi Kementerian ESDM terhadap aktivitas terkini Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah-Yogyakarta pada Kamis pagi 28 Janauri 2021. 

“Rabu 27 Januari 2021, telah terjadi 52 awan panas guguran di Gunung Merapi dengan jarak luncur maksimal 3 kilometer ke arah barat daya terutama di hulu Kali Boyong dan Krasak. Sempat dilaporkan kejadian hujan abu di beberapa tempat. Hal ini wajar mengingat material halus produk erupsi dapat terbawa oleh angin,” ujar Eko dalam keterangan persnya.

Baca Juga: 340 Kilogram Rendang Dikirimkan Masyarakat Sumbar untuk Pengungsi Gempa Sulbar

Eko mengatakan, sejak Oktober 2020 aktivitas vulkanik Gunung Merapi terus mengalami kenaikan. Puncaknya pada 5 November 2020, Badan Geologi telah menaikkan status Gunung Merapi dari Waspada ke Siaga.

Selanjutnya, pada awal tahun ini tepatnya pada 4 Januari 2021, Gunung Merapi akhirnya mengalami erupsi yaitu berupa erupsi efusif yang ditandai dengan munculnya api diam di sekitar Lava 1997.

“Gunung Merapi memiliki ciri erupsi yang khas yaitu dengan tipe erupsinya yang disebut sebagai Tipe Merapi dengan aktivitasnya berupa pertumbuhan kubah lava, kemudian terjadi guguran lava dan awan panas guguran,” lanjut Eko.

Pada tanggal 7 Januari 2021, awan panas pertama terjadi di Gunung Merapi. Hingga saat ini, tercatat 95 kali awan panas guguran dengan jarak luncur terjauh 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Jarak luncur awan panas ini masih dalam jarak rekomendasi bahaya yang ditetapkan oleh BPPTKG-PVMBG-Badan Geologi, yaitu sejauh maksimal 5 kilometer dari puncak.

Eko menambahkan, hingga sampai hari ini (28 Januari 2021), aktivitas Gunung Merapi dinyatakan masih tinggi dengan aktivitas berupa awan panas guguran dan guguran lava. Data seismik masih didominasi oleh kegempaan karena aktivitas guguran, sedangkan laju deformasi EDM cenderung landai.

Halaman:

Editor: Muhammad Suria

Sumber: setkab.go.id


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah