Selain Lubang Buaya, Ini 3 Tempat Bersejarah yang Harus Diketahui Dalam Peristiwa G30S PKI

27 September 2020, 11:57 WIB
Pelataran Monumen Pancasila Sakti di lubang Buaya. /Antara/Aditya P Putra

BERITA DIY - Peristiwa G30S/PKI merupakan sejarah kelam yang dimiliki bangsa Indonesia dan sukar untuk dilupakan. Bagaimana tidak, dalam waktu kurang dari sehari, yakni pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965, bangsa Indonesia kehilangan para putra terbaiknya.

G30S/PKI yang menurut narasi dominan didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) ini merenggut nyawa tujuh perwira militer Indonesia dan seorang gadis kecil putri Jenderal Abdul Haris Nasution.

Salah satu hal yang tidak dapat dilupakan adalah cara para pemberontak menghilangkan nyawa para jenderal, yakni dengan disiksa terlebih dahulu kemudian dibuang ke sebuah sumur di Lubang Buaya. Kini, tempat tersebut telah disulap menjadi museum dan menjadi tujuan wisata edukasi untuk mengenang para pahlawan revolusi.

Baca Juga: Apa Arti Pancasila Bagi Bangsa Indonesia dan Apa Fungsinya? Cari Tahu di Sini

Selain kawasan Lubang Buaya, terdapat beberapa lokasi yang terkait dengan peristiwa G30S/PKI. Berikut adalah daftar tempat bersejarah tersebut:

Museum Jenderal A.H Nasution

Museum Jenderal Besar Abdul Haris Nasution dulunya merupakan kediaman sang jenderal beserta keluarga. Beliau mulai tinggal di rumah yang terletak di Jalan Teuku Umar No 40, Menteng, Jakarta Pusat ini sejak menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) hingga wafat pada 2000.

Ini bukanlah rumah biasa. Tempat tersebut merupakan saksi bisu peristiwa G30S/PKI yang menargetkan para petinggi Angkatan Darat. Jenderal Nasution adalah salah satu sasarannya. Di sini, pengunjung dapat melihat barang-barang pribadi milik sang jenderal, seperti perabotan, pakaian, dan koleksi buku.

Baca Juga: Arti dan Makna Lambang Pancasila yang Menjadi Ideologi Dasar Indonesia

Di ruang makan, ada patung-patung yang memperlihatkan pasukan Tjakrabirawa mengarahkan senjata ke arah Ibu Nasution yang sedang mengggendong Ade Irma yang tertembak.

Dalam peristiwa penyergapan ini, putri Jenderal Nasution yang berusia lima tahun tersebut wafat, sementara ayahnya berhasil kabur. Semuanya tergambar dalam diorama yang seolah-olah mengajak para pengunjung kembali ke masa lalu.

Di kompleks tersebut juga terdapat ruang teater yang memutar rekaman bersejarah pengangkatan jenazah dan pemakaman para Pahlawan Revolusi.

Baca Juga: Pengertian Pancasila Sebagai Ideologi Negara dan Fungsinya bagi Bangsa

Museum Sasmitaloka Ahmad Yani

Sama seperti Museum Jenderal A.H Nasution, museum Sasmitaloka Ahmad Yani juga merupakan tempat tinggal Jenderal Ahmad Yani dan keluarga sejak 1958. Di museum ini, pengunjung dapat menyaksikan barang-barang peninggalan sang jenderal. Seragam dan tanda kehormatan beliau masih tersimpan rapi.

Di ruang tengah, terdapat sebuah plakat yang menandakan tempat Ahmad Yani jatuh tersungkur setelah diberondong peluru oleh pasukan Tjakrabirawa. Bahkan, pintu rumah yang berlubang-lubang karena tertembus peluru masih dipertahankan.

Baca Juga: Sejarah G30S PKI di Indonesia, Peristiwa Kelam yang Patut Diingat

Monumen Ade Irma Suryani

Berbeda dengan dua tempat bersejarah sebelumnya yang menjadi saksi peristiwa G30SPKI, monumen Ade Irma Suryani merupakan makam tempat dikebumikannya putri Jenderal Nasution.

Ade Irma Suryani yang lahir pada 19 Februari 1960 tersebut menjadi korban termuda G30SPKI. Tiga peluru yang sebenarnya ditujukan untuk sang ayah bersarang di tubuhnya. Di badan monumen, pengunjung dapat melihat foto-foto Ade Irma Suryani, termasuk saat proses pemakamannya.

Sedangkan di batu makam tertulis kalimat:
"Anak saya yang tercinta, engkau telah mendahului gugur sebagai perisai ayahmu," yang ditulis oleh Jenderal Nasution.***

Editor: Resti Fitriyani

Sumber: Berita DIY

Tags

Terkini

Terpopuler