Halal Bihalal Artinya Apa? Begini Sejarah, Makna, dan Manfaat Ketika Dilakukan Usai Lebaran Idul Fitri

- 3 Mei 2022, 19:00 WIB
Pengertian halal bihalal beserta sejarah, makna, dan manfaat yang bisa didapat umat muslim.
Pengertian halal bihalal beserta sejarah, makna, dan manfaat yang bisa didapat umat muslim. /PIXABAY/@syauqifillah
 
BERITA DIY – Berikut merupakan pengertian halal bihalal lengkap dengan sejarah, makna, dan manfaat yang bisa didapat ketika dilakukan usai lebaran Idul Fitri.
 
Tinggal menghitung hari seluruh umat Islam akan merayakan hari kemenangan, yaitu hari raya Idul Fitri 1443 Hijriah.
 
Halal bihalal merupakan tradisi masyarakat Indonesia yang dilakukan usai hari raya Idul Fitri baik di kalangan instansi pemerintah, perusahaan dan dunia pendidikan.
 
 
Hal tersebut adalah cerminan ajaran Islam yang menekankan sikap persaudaraan, persatuan, dan saling berbagi kasih sayang pasca lebaran.
 
Menurut pandangan Islam, halal bihalal bertujuan untuk menghormati sesama manusia dalam bingkai silaturahmi.
 
Halal bihalal dilihat dari sisi silaturahmi dapat menjadi perantara untuk memperluas rezeki dan memperpanjang umur
 
Berikut sejarah halal bihalal seperti dikutip oleh Berita DIY dari jurnal  MAKNA HALAL BIHALAL yang ditulis oleh Astrida, S.Pd.I Guru PAI SMP Sandika Kabupaten Banyuasin.
 
 
Sejarah halal bihalal
 
Di Makkah dan Madinah, tradisi halal bihalal tidak dikenal. Karena itu, bisa dikatakan halal bihalal adalah ciptaan umat Islam Indonesia atau dalam bahasa Prof. Dr. Quraish Shihab merupakan hasil pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat Asia Tenggara.
 
Sebenarnya, tradisi halal bihalal pertama kali dirintis oleh Mangkunegara I, lahir 08 April 1725, yang terkenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa. Ketika itu, untuk menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan biaya setelah sholat Idul Fitri, Pangeran Sambernyawa mengadakan pertemuan antara raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana.
 
Sumber lainnya adalah tradisi halal bihalal bermula pada masa revolusi kemerdekaan, di mana Belanda datang lagi. Saat itu, kondisi Indonesia sangat terancam dan membuat beberapa tokoh menghubungi Soekarno pada bulan Puasa 1946 agar bersedia menggelar pertemuan dengan mengundang seluruh komponen revolusi di hari raya Idul Fitri yang jatuh pada bulan Agustus.
 
 
Kemudian, Presiden Soekarno menyetujui dan dibuatlah kegiatan halal bihalal yang dihadiri tokoh dan elemen bangsa sebagai perekat hubungan silaturahmi secara nasional. Sejak saat itu, semakin maraklah tradisi halal bihalal dan tetap dilestarikan oleh masyarakat Indonesia sebagai salah satu media untuk mempererat persaudaraan bagi keluarga, tetangga, rekan kerja dan umat beragama.
 
Makna halal bihalal
 
Sebenarnya halal bihalal adalah istilah bahasa Arab, namun istilah tersebut tidak bisa dipahami oleh orang Arab. Karena halal bihalal memang bukan bahasa Arab normal.
 
Kata tersebut berasal dari akar kata halla-yahillu, berarti singgah, memecahkan, melepaskan, menguraikan, mengampuni.
 
Memaknai halal bihalal tidak terbatas hanya pada saat hari raya Idul Fitri saja, namun dapat dilakukan kapan pun.
 
 
Manfaat halal bihalal
 
Dosa seorang muslim dapat terhapus dengan saling memaafkan antar sesamanya. Hal mengenai maaf-memaafkan tersebut telah diatur dalam Islam sebagaimana diisyaratkan dalam Al-quran Al-A`raf ayat 199 dan hadist Rasulullah SAW.
 
Rasulullah SAW bersabda:
 
"Dua orang Muslim yang bertemu, lalu keduanya saling berjabat tangan, niscaya dosa keduanya diampuni oleh Allah sebelum mereka berpisah." (HR. Abu Dawud).
 
 
Halal bihalal atau silaturahmi juga dapat memperluas rezeki dan memanjangkan umur seperti hadist berikut.
 
Nabi Muhammad Saw. bersabda : "Siapa saja yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali persaudaraan" (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
 
Itulah pengertian halal bihalal lengkap dengan sejarah, makna, dan manfaat yang bisa didapat ketika dilakukan usai lebaran Idul Fitri.***

 

Editor: Bagus Aryo Wicaksono


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah