Cerpen: Kencan

- 8 Agustus 2020, 22:14 WIB
Ilustrasi pasangan kekasih
Ilustrasi pasangan kekasih /pixabay

 

Sabtu sore, aku bersama Rocky, anjing kesayanganku berolahraga ringan di taman, setelah berbulan-bulan aku dan Rocky terkurung di rumah.

Baru dua putaran, Rocky menghentikan langkahnya, memandangi anjing perempuan milik tetangga rumahku yang kebetulan juga tengah bersantai. Aku akhirnya duduk di bangku taman sedang Rocky terdiam. Tak lama ponselku bergetar, rupanya sebuah pesan singkat dari kekasihku.

“Jangan lupa dandan yang cantik, kita kencan malam ini.”

Aku tersenyum kecil, hampir saja aku lupa kalau ini malam minggu. Setelah menghabiskan satu putaran lagu, aku memutuskan untuk pulang, bersiap untuk kencan malam ini. Sesampainya di rumah, Rocky segera menuju kandangany minum dan menghabiskan snack siang tadi lalu tertidur pulas.

Aku lantas menuju taman belakang rumahku, menyiapkan kencan malam ini, aku menghias meja kecil di sana dengan lampu dan bunga kesukaanku.

Pukul 18.00 aku menuju kamar mandi, membersihkan keringat di tubuhku dengan rutinitas yang cukup panjang. Satu jam kemudian aku selesai dan segera mengenakan dress merah yang dua hari lalu dikirimkan oleh kekasihku.

Kubuka ponsel pintarku, kukirimkan pesan untuknya, “aku siap dalam 30 menit”.

Sebelumnya telah aku memesan pasta untuk dinner malam ini. Tepat pukul 19.30, panggilan videomu masuk dari layar laptop yang juga telah aku atur di meja berhiaskan bunga mawar putih.

“Hai sayang, kamu cantik seperti biasa,” sapanya.

Beginilah kencan yang ia maksud, kita akan berdandan, ia menggunakan jas, rambutnya ia tata klimis, kita akan dinner romantis bersama, namun tak berdekatan.

Lima tahun sudah rutinitas ini kita lakukan, ia bekerja di luar pulau. Hanya satu tahun sekali ia menjengukku, itupun tak pasti. Jarang sekali kita habiskan tahun baru bersama, lebih banyak seperti ini. memesan makan online, menatanya dan kita akan berbincang lebih lama ditemani bintang.

Di saat pasangan lain mengeluhkan hubungan mereka karena pandemi, aku hanya tersenyum. Beberapa kali temanku bertanya, mengapa bertahan sampai sejauh ini? Singkat aku jawab, karena percaya. Jarak bukanlah masalah, karena hati kami saling bertaut, meski tangan kami tak saling menggenggam.

Kencan kami malam ini diakhiri dengan suara bel rumahku, rupanya abang ojek online mengantarkan makanan lagi untukku.

 Tertulis pesan di atasnya, “untuk yang tersayang, dari kekasihmu.”

 

-SaniCha-

Editor: Resti Fitriyani


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x