Cerita di Balik Gunungan Sampah Piyungan Yogyakarta

- 13 Agustus 2020, 21:29 WIB
TPA Piyungan /Sani Charonni

BERITA DIY - Di tengah gencarnya kampanye penyelamatan bumi dengan pengurangan sampah plastik, sekitar empat belas kilometer dari pusat kota Yogyakarta puluhan orang menggantungkan hidupnya melalui sampah plastik. Salah satunya, Ibu Poni. Wanita berusia empat puluh delapan tahun ini telah hampir dua puluh tahun lebih menjadi pemulung.

Sore itu di teras rumahnya yang dikelilingi plastik-plastik hitam besar berisi sampah plastik, Ibu Poni bercerita tentang kehidupannya. Ibu Poni merupakan salah satu pemulung besar di wilayah desa Ngablak, Sitimulyo, Piyungan, Bantul.

Ia biasa menerima sampah hasil pilahan dari pemulung yang berada di TPA Piyungan. Dapat dikatakan bahwa Ibu Poni adalah juragan yang memberikan upah pada para pemulung untuk sampah hasil setorannya.

Baca Juga: Daftar Pemenang Soribada Awards 2020: Ada BTS, Kang Daniel, dan Red Velvet

Harga beli untuk masing-masing jenis sampah berbeda-beda. Botol plastik dibeli Ibu Poni dengan harga dua ribu rupiah per kilogram, gelas air mineral dijual dengan harga empat ribu rupiah per kilogram, kresek hitam seharga tujuh ratus rupiah, kaleng seharga seribu rupiah dan besi seharga dua ribu rupiah. Harga-harga beli sampah-sampah itu sudah beberapa bulan ini mengalami penurunan.

“ya biasa mbak. Karena pilihan itu lho. Harga-harga semuanya turun,” tutur Ibu Poni.

Baca Juga: Senoktah Asa Gerabah Pundong

Kehidupan ekonomi masyarakat yang bermata pencaharian sebagai pemulung tidaklah mudah. Sampah-sampah yang telah disetor dari para pemulung kecil ini, nantinya akan dikirim ke Surabaya untuk didaur ulang dan dijadikan wadah plastik kembali.

Sampah botol plastik dan gelas air mineral adalah komoditas sampah terbesar yang dapat didaur ulang. Sebelum dikirim ke Surabaya sampah-sampah plastik masih harus dipilah. Hanya botol air mineral polos yang akan dikirim ke pabrik untuk didaur ulang.

Halaman:

Editor: Iman Fakhrudin


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X